Skip to main content

Posts

Showing posts with the label galau

Curcol seorang teman

I miss the way your eyes squint whenever you tease me.. I miss the way you smile whenever you see me.. I miss how I feel safe and comfy whenever you stand close to me I enjoy the time we walk together when you tell me your life stories,  Even though it's just for a brief moment I like how our hands nearly touch whenever we walked side by side I like the fact that I could come to you whenever I have trouble at work I love how you asked me to pray together with you.. I don't know whether there will be a story about us in the future or not.. All I know is.. for now.. I miss you.. (source: a WhatsApp conversation between me and a dear friend. I feel you...)

Loving You Is Easy

Loving you is easy I can tell you instantly But sadly Your heart is never mine to keep Loving you is easy And it's all that I do, obviously Loving you And all your flaws too Your presence Your smile, your eyes One look at you And I'm home Sadly, you... You will never surrender And I... I could only love you like this But trust me, loving you Is the easiest thing for me

I beg you, please...

The more I tell myself not to fall for you, the more I fell.. Your little gestures make my heart melts over and over again. You come to help when I ask, without hesitate, with no fuss. You're willing to bring something I want, no questions asked, not feeling burdened. You are kind to me. Too kind. It makes me question if there is any love hidden beneath your actions. If you don't love me, please don't be that kind. Please... I beg you, please don't be too kind to me... I'm not sure I can handle any more heartache. Please... I beg you, please don't be too kind to me. For I might want you more than I would, need you more than I could, and love you more than I should. Please... I beg you, please.......

Sebegitu Rindu

Rasanya sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang menggenggam paru-paru dengan erat, menghalangi setiap helaan nafas, menghambat hembusan resah. Rasanya susah, teringat kamu disini dan disana, ingin ketemu kamu sebentaaaarrr saja, lalu tiba-tiba sadar bahwa kamu tidak merasa yang sama. Rasanya pedih, ketika rasa rindu diungkap dengan susah payah, namun kamu diam saja, seakan bilang rinduku ini tak punya arti, seakan berkata aku bodoh sekali. Rasanya sakit, lagi-lagi menangis karena kangen kamu setengah mati, padahal kamu sama sekali tak peduli. Aku ingin tahu apa yang kamu rasa, tapi tak berani bertanya. Ingin tahu apa arti diammu, apakah artinya aku tak boleh rindu? Maaf bila rasaku ini mengganggumu. Apa sih arti diammu? Betulkah aku tak boleh rinduimu? Ataukah artinya kamu juga rindu aku?

There She Goes (part 2)

Another best friend is going to go away. Resigning, to be exact. All and all, again, I'm left all alone. :) She's married, two kids soon to be three, her home is at a different city with our office (approximately 1.5 hours drive by car), and it's only logical that she's resigning so she could be close with her husband and kids. Logical. Puih! Current situation is she rent a house here and live here with her two kids (along with an assistant), and her husband live at their home. Her husband would come at the weekend to their rent house, and go back again on Monday to work. Past situation when her kid was still one: she went to the office from her home, back and forth. Of course with her pregnancy now, she needs to think whether she would go back and forth like a few years ago, or she would rent a bigger house here, or she would resign. Her husband choice was for her to resign, apparently, because her husband couldn't stay away from the family. Ev...

Daun Jatuh

Berpisah dari pohon adalah takdir daun. Sekuat apapun daun berpegangan pada pohon, sekuat apapun pohon menggenggam tangan daun, pada saatnya daun pasti akan gugur pula. Daun tahu dan sadar akan hal ini, oleh karenanya ia menikmati betul saat-saat kebersamaan dengan pohon. Ada sepasang burung yang tinggal juga di pohon. Awalnya mereka hidup berdampingan: daun, pohon, dan burung. Namun entah kenapa, burung merasa mereka memiliki pohon. Mereka merasa mereka lah yang merawat pohon. Mereka merasa mereka lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi pohon. Suatu hari, burung melihat hubungan daun dan pohon. Mereka tidak suka pada daun dan mereka berusaha mencabut daun dari pohon. Pohon dan daun berpegangan erat, tidak rela untuk berpisah. Tak peduli betapa keras burung menghentakkan cakar mereka di ranting pohon, atau mengepakkan sayap mereka di dekat daun, daun dan pohon tetap bertahan. Daun, yang masih muda, tahu bahwa ini bukan saatnya ia berpisah dengan pohon. Belum saatnya. Maka d...

Kamu Maunya Apa?

Kamu maunya apa? Kemarin ga niat nyari istri katanya Berarti kita temenan aja kan? Berarti aku harus jaga hati kan? Terus kamu maunya apa? Tadi tiba-tiba nawarin permata Emang sih aku pernah bilang suka Tapi aku mau nitip, bukan minta Kamu maunya apa? Wajar ga sih kalo aku jadi gede rasa? Soalnya kamu mau direpotin cari permata Permata warna ungu yang aku suka Kamu maunya apa? Aku susah payah jaga rasa Tolong kamunya yang jelas Kalo iya ya bilang iya, nggak ya bilang nggak Kamu maunya apa?? Kalo aku maunya nyoba deket sama kamu, jelas.

There She Goes...

Well well, there goes my best friend. :) Sahabat sekaligus rekan sekantor sudah dipromosikan untuk menjadi pejabat struktural di Jakarta. She'll move next Wednesday. I'm happy for her, but also a little bit sad because she'll be far. Ga cuma dia. Sahabat satu lagi juga sedang mengurus kepindahannya ke daerah, mengikuti suami. She'll have 3 kids soon, it would be best if she's near her husband. All in all, I'm left all alone. Not that it mattered too much, though. I'm sad, of course. But I want the best for them. After all, I'm "trained" to stand on my own, to survive alone. :) So, my dear best friend, good bye for now. Good luck in Jakarta. Hope you'll be as success as you always wanted to be. And to my other best friend, I hope your transfer process will be smooth and be done ASAP. I know that both of you will be far, but we will always be there for each other. Don't you worry, I'll be fine even though I'm alone. :) XOXO ...

Sungguh, kuingin kamu inginiku..

"Pak, saya izin keluar sebentar. Sakit perut.", kudengar sayup-sayup suaramu. Aku yang sedang konsentrasi meng-copy paste file di laptop yang terhubung dengan layar infocus, tidak menoleh. Aku hanya berpikir, ckckck ternyata penyakitmu kambuh lagi.  Ya, kamu memang sering mendadak sakit perut. Aku tetap berkonsentrasi pada rapat yang sedang berlangsung. Aku mendadak ditunjuk menjadi tukang ketik, dan karena ketikanku langsung terhubung pada layar besar, maka aku berkonsentrasi penuh kesana. Rapat sudah hampir selesai, posisiku sebagai tukang ketik digantikan oleh rekanku. Aku menoleh, mencari-cari dirimu. Kamu tidak kembali lagi ke ruang rapat. "Dia kemana, Bu?", aku bertanya pada salah satu teman. "Dia izin pulang, katanya Bapaknya sakit keras.", jawab temanku. "Ooh..", jawabku pendek. Aku tahu bapakmu memang sedang sakit. Kamu pernah cerita padaku. Selesai rapat, aku berlari ke ruang Tata Usaha untuk mencetak hasil rapat tadi. "...

Masa Lalu

Kamu.. Masa Lalu.. Diam di pojok otakku Lalu datang menguasai pikiranku sesukamu Masa Lalu Kenapa kamu seperti itu? Kenapa kamu tidak pergi saja dari situ? Kenapa kamu diam disitu? Salahku Tak bisa melepasmu, Masa Lalu Salahku Selalu mencari alasan untukmu Aku memang begitu Mencari alasan terjadinya kamu Mencari tahu pantaskah kamu terjadi padaku Selalu begitu Kalau aku belum tahu Aku tak bisa melepasmu, Masa Lalu Aku belum bisa maju Ya, separah inilah aku Masa Lalu Aku ingin maju dari kamu Aku lelah memikirkanmu Aku lelah mengandaikanmu Masa Lalu.. Lepaskan aku Bebaskan pikiranku Biarkan aku maju Hai, diriku Berhentilah memikirkan Masa Lalu Agar kita bisa maju Ya, agar kita bisa maju.. First published at FB: September 9th, 2011

Jadi milikku, mau?

Kamu berdiri di depanku. Memesona, seperti biasa. Kamu menarik nafas panjang, seakan pembicaraan ini terlalu berat untukmu. Aku diam, menunggumu bicara. Kamu masih diam, menatapku dalam. Menimbang-nimbang. Aku menatap matamu, kutemukan keraguan disana. Aku sayang padamu, tak bisakah kau lihat itu? Tak usah kau ragu, hati ini milikmu. Kamu masih terdiam. Aku mulai gerah dengan kebisuan ini. Dapat kulihat kau kebingungan mencari kata-kata. Kutarik nafas panjang. "Jadi milikku, mau?", kataku. Matamu spontan berbinar, senyum mengembang di bibirmu. Tiba-tiba kau memelukku. Hangat. Erat. Lalu kau kecup pipiku sekilas. Aku terpana. "Terima kasih.", katamu. "Aku akan mengatakannya." Kau tergesa keluar dari ruangan, untuk mencari dia. Untuk mengucapkan kalimat tadi padanya. Kalimat yang sedari tadi kau cari. Kau pergi. Sehingga tak kau lihat betapa ku terluka. Tak kau lihat betapa inginnya aku memilikimu. Tak kau sadari bahwa kalimat itu tulus ku...

Pisces galau

Galau itu bisa datang tiba-tiba. Mendadak. Kapan aja. Ga pake pengumuman, ga pake kulonuwun. Kalau sudah galau, pikiran jadi kacau. Kacau balau nan semrawut. Kalau lagi galau, ada dua jalan yang bisa dipilih. Yang pertama, menikmati kegalauan. Yang kedua, nyuekin si galau. Kalau mau dinikmati, ada baiknya sendirian dulu. Bisa mengurung diri di kamar, termenung di balkon, atau dimanapun yang ga diganggu orang. Kalau sudah sendirian, galau bisa dinikmati dengan maksimal. Mulai dari mencari tau kira-kira apa penyebab galau, kalau perlu bisa nangis sepuasnya. Supaya lebih lega. Denger lagu-lagu mellow juga membantu dalam proses menikmati galau. Nikmati kegalauan dan kesendirian sampai puas, sampai klimaks, sampai air mata menetes habis dan puas menghela nafas. Kalau sudah puas, baiknya istirahat. Galau itu menguras tenaga. Kalau mau nyuekin si galau, cara terampuh adalah dengan segera menyibukkan diri. Coba sebisanya supaya ga sendirian. Ajak teman main, nonton, karaoke. ...

Langit malam

Kamu suka langit malam? Saya suka sekali. Kapan terakhir kali kamu melihat langit malam? Saya baru saja terpesona oleh indahnya purnama. Bulat penuh dan begitu benderang, menyirami bumi dengan sinarnya yang putih menyejukkan.. Sayang, bintang gemintang tak terlihat. Mungkin kalah oleh pesona sang rembulan. Atau, kalah oleh polusi cahaya kota. 5 tahun yang lalu, nyaris 4 hari dalam seminggu saya mendongak ke atas mengagumi bintang dan bulan. Apalagi kalau pikiran sedang jenuh oleh pekerjaan, saya menikmati betul perjalanan saya menuju kost. Kost saya berjarak 600 m dari pinggir jalan raya. Saya suka berjalan pelan seperti siput, melangkahkan kaki pelan satu demi satu, mendongakkan kepala ke atas, dan membiarkan mata saya rakus melahap pemandangan di langit. Kadang bulan sedang sabit, kadang purnama.. Kadang langkah saya hanya ditemani kerlip bintang yang centil menyapa. Saat itu, seakan semua beban lepas. Saya otomatis tersenyum menatap bulan bintang yang bersinar riang...

Akankah ada bedanya?

Tanya ini melanda begitu hebat.. Begitu dahsyat.. Begitu kerap.. Begitu menyiksa.. Ingin teriak, tapi adakah guna? Ingin mengungkap, tapi akankah jadi beda? Dimana air mata? Kupikir, ku perlu ia untuk jadi rela. Karena saat ini aku masih kecewa, dan masih bertanya. Akankah ada bedanya? Akankah ada bedanya?? Akankah ada bedanya??? Tak seharusnya kutulis ini. Haruskah kuhapus lagi? Tapi ini jujur ungkap hati, yang saat ini sedang perih. Dan aku sedang ingin menulis. Ternyata tak mudah jadi rela. Tak mudah jadi ikhlas. Tapi apa yang ku bisa? Aku hanya bisa mencoba, dan berdoa, dan berharap semoga jadi rela.. Semoga jadi ikhlas.. Karena sepertinya, tak akan ada bedanya.. Dan sepertinya, air mata belum akan datang.. first published at FB: 19th December 2009