Skip to main content

Posts

Aku benci kamu hari ini

Kamu... Cih! Aku benci kamu yang telah membuatku susah makan. Aku benci kamu yang sudah membuat tidurku tak nyenyak. Aku benci kamu yang telah membuat nafasku tersendat. Aku benci kamu yang sudah membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Aku benci kamu yang sudah menghampiriku hari ini, karena aku tahu, kau akan berdiam disini selama sedikitnya tiga hari, menyiksaku dengan kehadiranmu. Aku benci kamu hari ini! Kamu membuatku tak fokus bekerja. Kamu membuatku panas dingin, semua hanya karena kehadiranmu. Aku benci kamu, wahai radang tenggorokan! Aku juga benci kamu, pilek! Pergi jauh-jauh dariku! Ditulis, dengan harapan radang tenggorokan dan pilek yang menyerang akan segera pergi jauh. Hush hush!

Sepucuk surat (bukan) dariku

Teruntuk kamu, Hai, kamu… Aku rindu. Sungguh. Mungkin kamu tak tahu, mungkin kamu tak percaya kataku, tapi sungguh aku merindumu. Kamu ada waktu? Aku ingin bertemu. Hari Rabu, siang hari jam satu, kutunggu kamu disitu. Aku, yang mencintaimu. Hari Rabu, jam satu “Aku rindu.”, kekasihku berkata ketika aku tiba. “Aku juga rindu, tapi ada apa tiba-tiba kamu mengirim surat?”, tanyaku padanya. “Lho, bukannya kamu yang mengirim surat mengajak bertemu?”, jawab kekasihku. PLAK! “Kita putus!”, sang wanita berteriak penuh emosi, setelah menampar kekasihku sekuat tenaga. Wanita itu, pacar kekasihku, yang terbakar api cemburu melihat ia mengucap rindu penuh cinta padaku. Pasanganmu selingkuh. Tak percaya? Datang saja kesitu hari Rabu jam satu. Kulihat folder sent items di ponselku, ada sms itu dengan nomor wanita itu sebagai penerimanya. Maaf, kekasihku, aku yang mengirim pesan singkat tentang pertemuan kita padanya. Aku yang mengirim surat itu padamu, tapi aku harus berpura-pura sepucuk surat ...

Ada dia di matamu

Aku bisa merasakannya, sayang. Kamu berubah. Kamu terlalu baik padaku, seperti hendak menebus dosa. Aku bisa merasakannya, sayang. Walau ragamu ada disini, di hadapanku, namun kamu terasa jauh. Kamu tiba-tiba menghilang, sayang. Tiada kabar, tanpa pesan. Kau biarkan aku disini, menantimu, mencari kabarmu hingga ke teman dan keluargamu. Teganya kamu. Aku tahu, sayang. Aku tahu tentang dia. Aku sudah bicara dengannya. Tentangmu, tentang kita, tentang kalian. Kutemui dia, sayang. Kutemui dia di rumahnya. Tak kusangka kamu pun datang kesana. Kita bertemu, sayang. Kita bertiga bertemu. Marahku habis sudah, tangisku kering sudah. Kutanya alasanmu, sayang. Kau bilang jenuh. Semudah itu. Tak kau lihat bertahun-tahun kita bersama, ketika kau masih bukan siapa-siapa. Kau lupakan perjuangan kita dalam suka dan duka. Kau sepikan restu orang tua kita. Kutanya padamu, sayang, dia atau aku. Kau tak menjawab. Tapi aku bisa melihat, ada dia di matamu. Buatku, itu sudah cukup, sayang. Kita selesai...

Jadi milikku, mau?

Kamu berdiri di depanku. Memesona, seperti biasa. Kamu menarik nafas panjang, seakan pembicaraan ini terlalu berat untukmu. Aku diam, menunggumu bicara. Kamu masih diam, menatapku dalam. Menimbang-nimbang. Aku menatap matamu, kutemukan keraguan disana. Aku sayang padamu, tak bisakah kau lihat itu? Tak usah kau ragu, hati ini milikmu. Kamu masih terdiam. Aku mulai gerah dengan kebisuan ini. Dapat kulihat kau kebingungan mencari kata-kata. Kutarik nafas panjang. "Jadi milikku, mau?", kataku. Matamu spontan berbinar, senyum mengembang di bibirmu. Tiba-tiba kau memelukku. Hangat. Erat. Lalu kau kecup pipiku sekilas. Aku terpana. "Terima kasih.", katamu. "Aku akan mengatakannya." Kau tergesa keluar dari ruangan, untuk mencari dia. Untuk mengucapkan kalimat tadi padanya. Kalimat yang sedari tadi kau cari. Kau pergi. Sehingga tak kau lihat betapa ku terluka. Tak kau lihat betapa inginnya aku memilikimu. Tak kau sadari bahwa kalimat itu tulus ku...

Aku maunya kamu titik!

AKU MAUNYA KAMU TITIK! Kamu yang sabar menghadapi setiap keegoisanku. Menghadapiku yang suka tiba-tiba ngambek hanya karena kamu tidak memberi kabar seharian. Kadang awalnya kamu tidak sadar kalau aku ngambek. Setelah sadar, kamu akan menjelaskan dengan sabar, sampai aku mengerti kalau kamu sedang sibuk. Lalu kamu akan mencolekku dengan centil, sambil tersenyum lebar. Ah, aku selalu luluh melihat senyummu. Ngambekku pun selesai, begitu saja. Begitu mudahnya. Kamu yang selalu ingat apa kesukaanku. Aku ingat kamu malam-malam datang ke rumah, memberiku sebuket mawar putih pada peringatan hari jadi kita. Padahal harusnya kamu marah padaku, karena aku yang tidak memberitahumu bahwa aku akan ada di rumah malam itu. Aku harusnya masih di luar kota, aku tidak bilang bahwa aku pulang. Tapi, kamu tidak marah. Kamu terlalu senang mendengar aku pulang. Karena sudah malam, kamu hanya sempat membelikan bunga. Dan aku? Aku tidak menyiapkan apa-apa untukmu. Dan kamu tidak marah. Aku maunya kamu ...

Kamu manis, kataku.

Kamu sibuk memilih baju di dalam lemarimu. Rambutmu yang sedikit basah masih kau jepit asal, wajahmu belum tersapu make up , aroma sabun masih menguar kuat dari tubuhmu. Keningmu berkerut memandang koleksi bajumu, lalu tanganmu bergerak mengambil salah satu baju. Mematut-matut diri di depan cermin. Tidak puas, kamu lempar baju itu ke tempat tidur, lalu kamu keluarkan baju yang lain. Begitu terus berkali-kali, sampai akhirnya kamu manyun kebingungan. Hihihi, kamu lucu sekali kalau sudah manyun begitu. Makin cantik, menurutku. “Pakai baju yang mana?”, kamu bertanya padaku. “Yang manapun bagus.”, jawabku sungguh-sungguh. “Ini kencan pertamaku dengannya. Aku ingin tampil beda.”, kamu merajuk, merasa aku tak membantu dengan   jawabanku barusan. “Baiklah, kamu mau menampilkan imej seperti apa? Feminin? Tomboy?”, akhirnya aku mengalah dan membantumu memilih baju. “Feminin tapi nyaman.”, jawabmu lugas. Ah, kamu memang wanita yang feminin tapi easy going . Katanya ingin tampil beda?...

DAG DIG DUG!

Kulangkahkan kaki menuju pantry . Kutenangkan diriku, kuhirup nafas panjang. Tarik nafas, buang nafas, tarik nafas, buang nafas… Kubuat secangkir teh panas. Kental. Pahit. Lalu kubawa cangkir itu ke meja kerjaku. Kulirik jam dinding, masih jam 7.30 pagi. Dia belum datang. DAG DIG DUG! Aku berusaha menenangkan diriku. Mataku tak lepas memandang pintu, sambil kuhirup tehku perlahan-lahan. Rasa pahitnya menyerang indra perasaku, sepahit apa yang kurasakan saat ini. Kenapa dia belum datang? Jam sudah menunjukkan pukul 7.45. Jam 7.55, dia masih belum datang. Ah, apa dia sakit? Kalau dia tidak datang, terpaksa aku menunda omongan ini sampai besok. Padahal aku sudah tidak sanggup lagi memendamnya. Sudah beberapa hari ini aku berperang dengan batinku sendiri, kapankah waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak, khawatir akan tanggapannya tentang ini. DAG DIG DUG! Dia datang! Tepat pukul 8.00. Seperti biasa dia menyebarkan senyuman mau...