Skip to main content

Posts

Hujan ini rinduku untukmu

Hujan datang ke tempatku malam ini. Apa hujan juga datang ke tempatmu? Kuharap hujan juga disana, menyelimutimu dengan kesejukan, menyenyakkan tidurmu, menyenangkan malammu. Apa kamu kedinginan malam ini? Jangan salahkan hujan, ya. Bila kau pinta, aku akan disisimu, menyelimutimu, menghangatkanmu dengan sayangku. Apa kamu kesepian malam ini? Apa kamu memikirkanku seperti aku memikirkanmu? Maka pintalah agar aku disisimu.  Aku rindu. Hujan akan menyampaikan rinduku padamu. Kuharap kamu mengerti bahasa hujan, sehingga kau mengerti rasaku. Sampaikan apa rasamu pada hujan agar aku tak bertanya-tanya tentangmu. Aku sungguh rindu padamu. Bila kau tidak merasa itu, tolong beritahu aku agar bisa kuhapus rasaku. Selamat malam, kamu. Nikmati hujan di malammu dan akan kunikmati hujan di malamku.

Rasa ini untukmu

Ketemu kamu pertama kali baru Kamis lalu Tapi langsung suka padamu, pada "nyunda"-mu Aku tak berani berharap kamu masih seperti aku Masih sendiri seperti diriku Kamis kemarin ketemu kamu lagi Lalu temanmu memberi info terkini Kamu katanya masih sendiri Senyumku langsung mengembang di bibir Benarkah kamu masih sendiri? Bolehkah aku mengeceng dirimu, officially ? Apakah aku menyukaimu terlalu dini? Atau haruskah kuhapus rasa asa ini? Kapan ya, bisa ketemu lagi denganmu? Aku deg-deg an menunggu email darimu Email yang sengaja kupinta untuk menyambung tali itu Ya, sengaja kupinta supaya hubungan tidak langsung putus begitu Duh, aku rindu sama kamu Ingin dengar kabar darimu Ingin kenal kamu lebih jauh Ingin merasakan rasa itu lagi padamu Duh, rindu ini begitu menyiksa Tapi aku begitu menikmatinya Hei, jangan kamu pikir aku gila Aku hanya pecandu cinta Aku menikmati setiap proses mencinta Rindu, deg-deg an Tersiksa, bahagia Merajut asa dan merenda khayal Kucoba meng- googlin...

Menikahlah denganku...

“Menikahlah denganku.”   “APA?”, aku shock , kaget dengan perkataannya yang tiba-tiba. “Tak usah sekaget itu. Aku serius.” “Tapi, bukannya kau sudah punya pacar?” “Pacar? Kau betul-betul percaya ceritaku tentang ‘pacarku’ itu?”, ia menggelengkan kepala putus asa. “Aku tidak pernah punya pacar, aku mengarang itu semua supaya kau tidak curiga kalau aku mencintaimu selama ini.” “Tapi…” aku kehilangan kata-kata. “Tapi apa? Jangan bilang kalau kau tidak pernah curiga pada perasaanku, pada perlakuanku padamu. Kau tidak sebodoh itu. Justru wanita itu yang bodoh karena sudah menyia-nyiakan kamu.” Ia menarik nafas panjang. “Percayalah, aku mencintaimu selama ini. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya. Menikahlah denganku, ya? Cukup sudah aku ada disampingmu sebagai sahabatmu. Biarkan aku mengisi hidupmu selanjutnya dan selamanya.” “Asal kau tahu saja, aku putus dengan pacarku ya gara-gara kamu. Entah sejak kapan kamu memenuhi isi kepalaku, membuatku inginimu lebih dari selama...

Sah!

“Bagaimana, sah?” “SAH!” Alhamdulillah… kuucap syukur dalam hati. Kuperhatikan wajahnya yang sumringah. Ia pun mengucap syukur penuh sungguh. Kulihat genangan air mata bahagia di matanya yang bulat. Mata yang kusuka, mata yang kucinta, mata yang kujaga agar selalu bahagia. Kulirik ia sekilas, ternyata ia pun sedang sembunyi-sembunyi melirikku. Aku tersenyum padanya, tersenyum meyakinkan bahwa aku pun bahagia. Dia yang selalu cantik, kini lebih cantik lagi. Manglingi, istilahnya. Maklum, ia jarang sekali berdandan, sehingga dipoles sedikit saja sudah jadi sangat berbeda. Dia, yang telah kucintai selama bertahun-tahun, yang kebahagiaannya adalah kebahagiaanku, kini mencium tanganku penuh khidmat dan agak malu-malu. “Doakan kami, Yah.”, pintanya ketika mencium tanganku. Aku tak kuasa menjawab. Kupeluk ia erat, kucium keningnya. Kau pasti tahu betapa aku menyayangimu, Nak. Doaku pasti terucap untukmu. Berbahagialah dengan pasanganmu kini. Ia takkan menyakitimu, kulihat betapa dalam...

Ini bukan judul terakhir

Kalau dipikir, akhir-akhir ini aku seperti orang gila. Memikirkanmu setiap saat, tak peduli dimana aku berada. Di kantor, di angkutan umum, di jalan, di kantin. Setiap detik, hanya kamu yang ada di pikiranku. Dan aku baru bisa tenang ketika sudah menumpahkan semua tentangmu dalam tulisan. Karena buatku, menulis itu membebaskan. Membebaskan beban hati, membebaskan imajinasi, membebaskan khayal diri, membebaskan himpitan asa, membebaskan pikiran dari kamu. Aku berkutat denganmu setiap hari, akhir-akhir ini. Kadang aku kesal karena tak bisa menumpahkanmu dalam bentuk tulisan sesuai mauku. Kadang aku senang karena tulisanku memang seperti kamu yang kumau. Ah, kamu betul-betul membuatku gila! Gila yang menyenangkan, tentunya.   Tapi besok kamu pergi. Aku pasti kangen kamu, blog ku jadi rajin terisi karena kamu. Aku yang biasanya menulis kalau ada inspirasi saja, kini menulis karena komitmen untukmu, karena dipaksa olehmu, dan aku menikmatinya. Kamu membangkitkan gairahku untuk menuli...

Kalau odol lagi jatuh cinta...

“Aku bosan seperti ini terus!”, rajuk odol. “Seperti ini bagaimana, maksudmu?”, tanya sikat gigi. “Ya seperti ini. Aku merindukanmu setiap waktu, tapi hanya bisa bersama denganmu beberapa saat saja, sebelum manusia itu mengganggu kebersamaan kita dengan menghancurkan aku menjadi busa. Aku ingin lama bersama denganmu, mencumbui setiap senti tubuhmu.”, odol   menjelaskan. “Tapi, bukankah dengan begini, cinta kita jadi tetap membara karena dibakar rindu? Toh, kita tetap bertemu minimal dua kali sehari. Cukup untuk melepas rindu.”, sikat gigi berusaha memberi pengertian pada odol. “Tidak mau! Aku lelah merindukanmu! Aku ingin bersamamu, lebih lama.”, odol tetap keras kepala. “Kalau begitu, berdoalah supaya manusia membiarkan kita bersama lebih lama.” *** “Ah, cintaku, sepertinya Tuhan mendengarkan doaku. Aku bisa bersamamu kini, lama, tidak hanya sesaat seperti biasanya.”, odol mencumbui tubuh sikat gigi. Ya, pagi ini, manusia pengganggu itu terburu-buru mandi, sehingga ia lu...

Merindukanmu itu seru!

"Maaf ya, aku membuatmu menunggu.", kataku penuh sesal. "Tidak apa-apa.", jawabmu ringan. Kamu tersenyum manis menatapku, membuatku heran. Orang lain pasti akan ngambek kalau disuruh menunggu seperti kamu menunggu aku. "Benar tidak apa-apa? Memangnya kamu tidak rindu?", tanyaku penasaran.   "Tentu saja rindu! Rindu sekali. Tapi betul kok, tidak apa-apa.", jawabmu, mencoba meyakinkanku. Kutatap matamu, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya kau rasakan. Tapi kulihat jujur disana. Aku jadi makin heran. "Lalu?", aku makin penasaran. Baru sekarang kutemukan orang seperti kamu.   "Merindukanmu itu seru!", katamu sambil tersenyum sedemikian lebar. Seakan kau sedang menghadapi sesuatu yang sangat menyenangkan. Keningku berkerut, mencoba memahamimu, menunggumu menjelaskan. "Iya, merindukanmu itu seru. Harus berakting seperti orang waras ketika isi kepalaku semuanya kamu. Sembunyi-sembunyi mengintip HP sambil berharap ad...