Skip to main content

Posts

Lava: A Volcano Song

Kemarin nonton Inside Out di CiWalk ma Mbak Reni. Seperti semua film Disney-Pixar lainnya, selalu ada short movie di awal film. Short movie kali ini judulnya Lava, and it was the first short movie that made me cry before the movie itself started! I cried like a baby. Not just sighed heavily, like when I watched Paper Airplanes or some other short movies, but I cried. It's an emotional song for me. It's a story about a male volcano that wishing patiently for "someone to lava". Just when he's tired of wishing, suddenly a female volcano appear in front of him, facing the other way around that she couldn't see him. That's when it hit me! I want them to be together so bad that I cry. His desperate expression not being able to be with her nor sing to her (since he drowned in the ocean) was so sad. Thank God it was a happy ending story. You should watch it. The theme song is great, and so touching. Film Inside Out nya juga bagus. I love Disney all the way...

Bulan Ini Bulan Bahagia

Posted that sentence, the "Bulan ini bulan bahagia" sentence to my FB wall and path. Got several responses, most of them misunderstand what I actually mean.  But, let's just say "aamiin" to those misunderstandings, and consider it a prayer for me. What makes this month a happy month? First, my best friends (yes, best friends, plural) are getting married this month. Not with each other and also not in the same time. They found their other half, and I'm so happy for them. I'm sincerely happy for them. To best friend no 1, Dearest Gani, thank you for letting me know about your marriage in person. I really appreciate that. I always imagine how I would feel when I know that you'll be married before me. Would I feel sad? Would I feel left behind? Would I envy you? All those feelings I have imagined. I also have imagined how I would respond when you drop the news. But hey, when the time comes, I felt none of the above! Seriously. My first feeling...

A Journey To India (Part 4)

Lanjut lagiii... Yah, sedikit demi sedikit akhirnya mulai bisa memahami apa yang orang omongin. Yang bikin agak terkaget-kaget adalah, bahwa dari dua makhluk bule ( and I mean Caucasian bule) yang ada di kelas, Stas dan Salvador, ternyata bahasa Inggris mereka juga belibet. English is not their first language , Stas biasa berbahasa Rusia, dan Salvador berbahasa Spanyol. Padahal kan asumsi kita semua orang bule itu lebih mending bahasa Inggrisnya daripada kita yaaa.. Hahahaha.. Malah jauh lebih bagus bahasa Inggris Hellen yang dari Uganda, karena mereka bahasa nasionalnya bahasa Inggris. Kasus khusus untuk Prossie, yang sama-sama dari Uganda juga, aksennya Prossie amat kental. Nyebut bag itu mirip-mirip ma back , dengan akhiran yang lebih lekoh. Godwin yang dari Nigeria juga bagus Inggrisnya, since he studied in England for some time . Yang lainnya, sama ajaaaa ma kitaaa.. Jadi, tenang aja lah, kalo mau ikutan diklat-diklat keluar negeri gitu, pede aja. OK, so first weekend is alm...

A Journey To India (part 3)

OK, lanjut lagiiii... I think I might end the journey in this part, makes it a trilogy. Or a tetralogy... We'll see. Nyampe tempat training , alias NITS - National Institute for Training Standards , udah malem. Jam 11-12an kalo ga salah. Udah parno aja kalo bakalan harus gedor-gedor kamar yang jaga mess . Alhamdulillah-nya, yang jaga mess udah nungguin di depan NITS. Isi data diri di buku tamu, terus koper diturunin ma Rajit sang supir taksi. Say thank you and goodbye to him , dan masuk ke NITS. Kesan pertama, pabalatak! NITS lagi direnov, debu dimana-mana. Koper digeret sama penjaga mess , dan gw dapet kamar no 04. Masuk kamar, berasa banget di India panash. Penjaga mess nyalain lampu, kipas angin, trus nyalain AC. Dia nunjukin makanan di meja kecil di samping tempat tidur, makan malem gw. Trus dia keluar, ngucapin selamat istirahat. My very first dinner in India: Chapati, boiled chicken, french fries, macaroni, boiled vegetables, dal. Kamarnya alhamdulillah masih ...

Last to Know

" Happy 4th anniversary, hon !", Bintang berkata dengan ceria. Ia lalu menyodorkan sebuah kotak kecil. P ikiran Tara berpacu. "Apakah ini .... cincin?", pikirnya dalam hati. "Ah, belum tentu cincin. Ayo, Ra, ga boleh ge-er.", Tara menyuruh dirinya sendiri untuk kembali ke bumi, pergi dari alam angan. "Buka dong, Ra.", Bintang tersenyum. Tara membuka kotak kecil itu perlahan. Dia melihat seuntai kalung perak di dalam kotak tersebut. Kalung perak dengan liontin huruf T, inisial namanya. Kalung itu indah, tapi ada rasa kecewa di hati Tara karena isi kotak itu bukan cincin. Tara menatap Bintang yang sedang menunggu reaksinya. Segera Tara memasang senyum, "Bintang... Ini indah banget. You shouldn't have ." "Kamu suka? Sini aku pasangin.", Bintang mengambil kalung tersebut dari Tara dan memasangkannya. Tara berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa kecewa dan menampilkan senyum yang paling manis. "Nah, paca...

Sebegitu Rindu

Rasanya sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang menggenggam paru-paru dengan erat, menghalangi setiap helaan nafas, menghambat hembusan resah. Rasanya susah, teringat kamu disini dan disana, ingin ketemu kamu sebentaaaarrr saja, lalu tiba-tiba sadar bahwa kamu tidak merasa yang sama. Rasanya pedih, ketika rasa rindu diungkap dengan susah payah, namun kamu diam saja, seakan bilang rinduku ini tak punya arti, seakan berkata aku bodoh sekali. Rasanya sakit, lagi-lagi menangis karena kangen kamu setengah mati, padahal kamu sama sekali tak peduli. Aku ingin tahu apa yang kamu rasa, tapi tak berani bertanya. Ingin tahu apa arti diammu, apakah artinya aku tak boleh rindu? Maaf bila rasaku ini mengganggumu. Apa sih arti diammu? Betulkah aku tak boleh rinduimu? Ataukah artinya kamu juga rindu aku?

Sakitnya tuh disini...

Waktu denger bahwa kerjaanmu, yang kamu kerjakan sepenuh hati, disebut sia-sia.... Sakitnya tuh disini *nunjuk dada*.   Sumpah, aku ngerjain kerjaan itu bukan karena pengen dilihat atasan. Bukan karena pengen disebut rajin. Bukan karena pengen cari muka. Murni karena emang harus dikerjain. Gak lucu kalo ada temuan pas audit cuma gara-gara hal kecil itu. Tapi kamu, dengan mudahnya bilang sama orang lain bahwa kerjaan aku sia-sia. Bahwa sebenernya itu ga usah dikerjain. Well, kalo emang udah kamu kerjain tahun lalu, mana buktinya? Aku nyari-nyari buktinya ga ada. Aku tanya, kamu bilang belum dikerjain. Lalu, salah kalo aku yang ngerjain? Oooh.. iya, aku lupa. Emang harusnya bukan aku yang ngerjain ya? Harusnya kamu yang ngerjain, lalu kamu koar-koar ke semua orang bahwa aku ga mau kerja sama sekali. Ah, aku lupa, bahwa dengan aku ngerjain kerjaan itu, itu sama artinya dengan aku ngambil kerjaan kamu. Selalu begitu kan? Apapun yang aku kerjain, di mata kamu aku salah. ...